Showing posts with label Kisah Mistis. Show all posts
Showing posts with label Kisah Mistis. Show all posts

Monday, October 22, 2012

Sosok putih di pohon pisang


Ini pertama kali saya ngirim, saya dari gresik, jatim seperti biasa, dimalam itu saya sedang main meriam bambu selesai terawih., seperti anak biasanya, kalau sudah senang pasti nggak akan merasa takut meskipun main di tempat gelap, saat malam saya dan kelompok saya ke persawahan luas yang di mana dekat rumah kosong yang mungkin lebih dari 9 tahun nggak ditempati yang udah banyak tumbuhan yang besar,
dari enam meriam bambu  cuma punya saya dan teman saya agus(nama samaran) kami sudah menemukan kejanggalan sejak pertama kesitu meriam bambu kami tidak bisa meledak keras, dan setelah mau balik temen saya agus itu diam saja sama temen saya yang satu nya , setelah sampai di tempat perkumpulan kami di cangkruk/tempat ngumpul, mereka menceritakan yang sebenarnya terjadi dari tadi mereka melihat sesosok berpakaian putih di pohon pisang yang katanya memperhatikan kita dari sejak kelompok kita kesana tadi. dan mereka mengetahuinya karena pisang yang di belakang rumah penduduk yang dekat dari persawahan itu.
besoknya mereka ggak mau lagi main meriam bambu ke tempat itu, karna itu mungkin setan dari rumah kososng tersebut karena terganggu.

Saturday, October 20, 2012

HANTU pelataran

*assalamualaikum wr. wabarokaaaaaaatuh,,,
halo kismis semua,,,kenaLan niEch,,,guE ShoLikun,,,anak pati jawa tengah,,,indonesia,,,msih NEWBiE banged,,,usia…(itung sendiri ya,,,(^^p)
maaf ya,,,kalou ntar criTanya awut-awutan,,,baru PERDANA,,,(^^),,
LANGSUNG aja yuk,,,ke TKP nya,,,gya ha ha ha ha ha
ini terjadi sekitar tahun 2007,,,
waktu itu,,,gue masih sd lah,,,
KElAS 6 GitU,,,
waktu itu,,,gue ama anak-anak sedang maen sepak boLa gan,,,DEMAM ama piALa dunia,,,hehe
gue biasa maen nya di pelataran belakang rumah gue,,,
jarak nya sekitar 10 meter gitulah,,dengan luas kurang lbih 1 hektar an lah,,,disebelah nya ada pohon bambu gitu,,lebat,,
waktu itu ada 10 orang,,,
kita maen nya di peLataran yg ada di blkg rumah gua tadi,,
(peLataran itu adaLah suatu tempat menjemur tepung tapioka,,,nah bagy yg anak PATi pasti tau,,,peLataran itu sejenis LATAR yg lapang yg beralaskan semen halus gitu,,,kayak dasar kOLam gitu)
nah,,,balik ke cerita…
kita maen Football nya mpe lupa waktu karna keasyikan,,,hingga tak lama kemudian,,,sang surya yang menyinari dunia tergelincir ke ufuk barat,,
nah,,,disni,,kita maen biasa aja,,,
gak ada kejadian apa apa,,,
nah,,,
waktu gua pulang,,,
tepat adzan maghrib berkumandang,,,
tapi langit masih cerah waktu itu.
gua lalu bermaksud cuci tangan segala macem di kran yg posisi nya bisa langsung ngeliat ke plataran tadi,,,
nach,,,waktu gk sengaja gua lihat ke arah plataran,,,gua nemu sosok perempuan biasa yg agak gemuk gitu lagi mainin tongkat(yg buat ngedorong tepung tapioka),gak jelas wajah nya,,,tapi gua tau kalou itu cwe usia 50-an,,gemuk gitu,,(mungkin wewe gombel)hiiii~
gua seketika kaget,,gua pgen tau banged siapa orang itu,,,
tapi,,gua takut,,,(maklum masih kecil)
lalu gua masuk buat tanya ke ibu gua,,,dan gua bawa ibuk gua buat liat orang tadi,,,(siapa tahu kenal)
tapi,,aneh nya,,,
orang tadi uda gak ada gan,,???
tau tuh kemana,,,tongkat yg di pakai juga kayak gk ada yg nyentuh,,,rapi,,
wah wah wah wah,,,
gua bingung ngung,,,pusing tujuh belas keliling,,
ibuk gua yg ngeliat gua diam lgsg nepuk gua,,,
gua malah di marahin ibuk gua dan disuruh cepetan masuk + mandi,,,
setelah selesai makan sholat dan ngaji,,dan mandi tentu nya,,,
semua keluarga gua ngumpul dan ngebahas cerita tadi,,,
dan kata ibuk gua,,,
disitu dulu pernah nemu penampakan-penampakan,,
ayah gua aja dulu pernah di temuin bayangan hitam yang tinggi sekali,,
trus disitu juga ada anak kecil yang main main gitu,,,(mungkin sebangsa tuyul),,,
dan nenek gua bilang….
dsitu adalah tempat jin-jin bersemayam,,,
gua sich deg deg an banged waktu bercerita saat itu,,,
haha
oia,,
maav kalou cerita nya acak acak kan,,
kalou semerawut,,,
itu pengalaman prtama gua NEMUiN hal-hal goib kayak gitu,,,
jadi…sekarang gua bisa ngerasain kayak gitu gitu,,,(NGERASAiN doang tapi)
yaudin,,
sampai jumpa lagi,,,
ja ne~
*wassalamualaikum warohmatullahi wb.

Wednesday, October 17, 2012

Pohon terembesi itu…


Banyak orang mengatakan bahwa pohon trembesi adalah istana yang sangat megah untuk mbak kunti, karena pohon jenis itu secara visual memang memiliki bentuk dan penampilan yang sangat cantik.  Mungkin karena kecantikannya itulah pohon trembesi dipilih menjadi home sweet home bagi komunitas mbak kunti. Dari aspek penghijauan, konon pohon ini mampu menyerap dan mereduksi CO2 dengan sangat baik. Tak heran, banyak pengembang besar menjadikan pohon ini sebagai primadonanya. Termasuk pengembang diperumahanku. Cuma bagi mertuaku, yang termasuk memiliki indera keenam cukup baik, trembesi menjadi pohon yang dinilai tidak begitu baik untuk kenyamanan dan ketenteraman warga nantinya.

Tidak sampai lima tahun, pohon trembesi di perumahan ku sudah cukup besar, keteduhannya membuat suasana begitu nyaman dan indah. Cuma bagi para satpam, keteduhan itu bisa berubah menjadi suasana yang agak mencekam bila malam telah menjelang. Malam itu hawa agak sedikit beringsang, jadi pintu kamar lantai atas terpaksa kubuka. Hawa dingin mulai masuk rumah, terasa lebih sejuk dan menyegarkan. Cukup lama kupandangi keindahan kota Malang dari teras atas. Kerlap kerlip lampu begitu mempesona. “ommm pintunya jangan dibuka lama-lama ya, kalau bisa  segera ditutup”  seru ponakanku alya. “lho kenapa, khan enak begini” kataku menimpali. “pokoknya ditutup om” ponakanku ngeyel. “ada apa sih alya ?” kok ribut-ribut perkara pintu”, isteriku tiba-tiba menimpali. “begini lho, tan..kalau tidak segera ditutup itu mbak kunti yang sedang jalan-jalan diatas pohon mesti mampir kesini” kata alya sambil tangannya menunjuk kearah pohon-pohon trembesi  yang ada dikejauhan. Serentak kami memandangi pucuk-pucuk pohon trembesi itu. Ada perasaan aneh, dan terbesit hawa dingin yang tiba-tiba menerpa kami. Suasana jadi agak sepi, tapi kemudian kututup dengan kata-kata menenangkan “sudah-sudah ayo masuk, ndak ada apa-apa kok”. Kemudian sebagai jalan tengah, akupun segera menutup pintu. Karena pintunya agak susah dikunci, aku lalu mengikatnya dengan tali.

Pukul 11 malam, suasana rumahku sudah sunyi senyap. Anak-anak milih tidur dilantai bawah. Sedang isteriku masih terpukau didepan layar TV, yang kebetulan sedang menyiarkan FTV dengan cerita yang cukup menarik. Aku sendiri kemudian naik, menuju kamar kami di lantai 2. Mungkin aku sedikit terpengaruh dengan omongan ponakanku tadi, sehingga merasa malam itu agak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Bulu kudukku terasa berdiri, prindang-prinding kata orang Jawa. Untuk menghilangkan rasa gamang itu, aku mencoba menyalakan TV. Namun, kemudian kuurungkan karena sayup-sayup aku seperti mendengar suara orang ketawa. Agak keras kemudian menjadi sayup-sayup. “ahhh mungkin suara TV dibawah”, pikirku sambil merebahkan diri. Lampu kamar dengan bohlam 10 watt, membuat suasana kamar itu menjadi agak sedikit lain. Tiba-tiba terdengar suara pintu yang diguncang, agak pelan tapi makin lama makin keras.
Aku spontan bangkit, dan mencoba meyakinkan diri, apakah yang diguncang tadi betul pintu teras itu. Ternyata, betul pintu itu diguncang-guncang, kali ini lengkap dengan gedoran-gedoran. Aneh, bukankah pintu teras itu tidak terhubung dengan tangga. Wah pasti maling ini, dengan segera aku mengambil pukulan bisbol dan dengan cepat kubuka ikatan tali yang ada. Masya Allah, begitu pintu kubuka muncul dua tangan dengan kuku-kukunya yang hitam panjang lengkap dengan bulu yang hitam diwut-diwut, seperti sedang berusaha keras membuka pintu itu. Wujudnya tidak nampak, yang kelihatan hanya tangan sebatas pundak. Reflek aku memundurkan diri, rasa kaget sempat membuatku agak kehilangan kekuatan. Namun segera kusebut nama illahi ya robbi, sehingga kesadaranku kembali utuh. Dalam sekejap tangan sepasang itu hilang. Segera kututup pintu itu lagi. Tak berapa lama terdengar pintu seperti dilempar batu “duarrrrrr” disusul suara menggeram berat “…Dasar manusia tidak tahu diri, mau masuk rumah saja kok pintunya ditutup rapat” kemudian terdengar lagi, pintu itu dilempar batu. Spontan keberanianku pulih, dengan berani kubuka pintu lagi. Ternyata yang didepan pintu bukan lagi sosok tangan yang diwut-diwut melainkan sosok perempuan berwajah pucat, rambutnya panjang terurai, bajunya putih panjang. Tubuhnya seperti melayang, terdengar ketawanya yang cukup nyaring “…hi…hi, kenapa pintu itu ditutup dengan tali, aku pingin pulang” katanya dengan suara yang dingin. “hmmm demit elek” makiku “kenapa kamu melarang aku menutup pintu rumahku sendiri” kataku sambil mulai merapal ayat qursi dan qulhu geni. “..ini rumahku” katanya sambil mulai merangsek kedepan, tanganku kemudian membuat gerakan memutar, dan dengan tenaga penuh kusorong kedepan, terasa tanganku menembus sosok lunak yang lentur “dessssss” “aduhhhhh panasssssss” jeritnya yang kemudian terpental dan hilang dirimbunnya daun trembesi. Aku kemudian menghela nafas panjang dan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena berhasil lolos dari sergapan yang cukup merepotkan dari sosok dunia lain. Sebagai pagar diri, aku kemudian membacakan ayat qursi yang kulengkapi dengan bacaan surat Annas, Ikhlas dan Al-alaq pada taburan garam didepan pintu lantai atas. Sampai pagi hari tidak ada gangguan yang berarti. Setelah itu, aku merasa agak menyesal, karena sebetulnya bukan salah mereka kalau selama ini menganggap kamar itu sebagai rumahnya. Karena, jujur saja kami dalam setahun hanya menempati dua kali saja itupun tidak lebih dari dua hari.

Untuk menebus rasa bersalah itu, aku kembali membuka pintu dan sempat berujar “ ini rumahku, kubeli dengan hasil jerih payahku. Kalau berniat ikut mendiami, aku meminta dirimu untuk tidak pernah mengganggu dan menampakkan ujudmu yang seperti tadi, marilah kita saling menempati rumah ini dengan damai, tidak saling mengganggu, dan jagalah rumah ini baik-baik”. Belum sempat, aku menutup pintu kembali, terlihat penampakan yang jauh lebih baik, sosok putrid cantik dengan wajah pucat tersenyum kearahku dan hilang persis di pohon trembesi yang ada di halaman rumahku.

Demikian pengalaman yang aku hadapi dengan pohon trembesi yang menjadi ikon penghijauan di komplek perumahanku.  Mudah-mudahan bisa menjadi pengalaman yang berarti bagi pembaca kisah mistis.

Jumat malam disekolahku..


Masa SMA adalah masa yang mengasyikkan memang betul adanya. Begitu juga yang kualami ketika menempuh studi disekolah kejuruan yang ada di jalan Kusumanegara Jogja. Hampir 80 % muridnya laki-laki. Jam pelajarannya mirip-mirip sekolah full day seperti saat ini. Pagi kami mendapat pelajaran teori , umumnya kimia terapan yang membuat otakku yang pas-pasan pengin pecah rasanya, kemudian sorenya dilanjut dengan praktikum laboratorium sampai selesai pukul 21.00. Begitulah ritme hidup yang harus kami jalani tiap hari. Untuk mengendurkan otak, pihak sekolah biasanya meminta kami mengadakan pentas seni dengan tema yang beragam. Mulai dari tema ulang tahun sampai pisah sambut. Pentas seni ini rutin diadakan sebulan sekali. Panitianya giliran tiap kelas dan tiap angkatan.

Satu malam, kalau tidak salah pas Jumat Malam, aku dan empat orang seksi kesenian kembali harus standby, karena hari Sabtunya acara pensi akan diselenggarakan. Setelah dirasa cukup, aku dan ganif sahabatku langsung merubah panggung yang biasa itu menjadi luar biasa. Setelah puas bernarcis ria mengagumi karya panggung yang menurutku sudah sangat luar biasa waktu itu, kami langsung menata meja untuk merebahkan badan. Jam sudah menunjukkan pukul 01.30. Ganif langsung tertidur pulas, dengkurnya terdengar cukup keras, sementara wowok dan sunari  juga sudah tenggelam dalam mimpi yang indah. Aku sendiri, entah kenapa belum bisa tidur. Beberapa metode pernafasan yang biasanya manjur membimbingku ke alam mimpi, malam itu tidak banyak gunanya. Karena belum bisa tidur-tidur, dan takut mengganggu teman-teman yang lain, kuputuskan untuk keluar dari kelas dan berencana mencari minum diwarungnya bu darmi.

Sampai diluar, aku melihat suasana kampus yang sunyi senyap. Lorong-lorong kelas jadi terasa amat panjang. Sempat terbersit rasa gamang, karena aku harus melalui tiga perempat luas sekolahan untuk bisa sampai ke warungnya bu darmi.  Dari arah laboratorium ATK (azaz teknik kimia) terdengar suara-suara yang cukup ramai, agak berisik lagi. Hatiku merasa agak sedikit lega “wah pak jamsidi mesti lagi lembur nih,  lumayan bisa minta sedikit anggur jambu mete” pikirku sambil beranjak mendatanginya. Namun aneh, begitu kakiku menginjak pintu kelas II yang bersebelahan dengan laboratorium itu, suara-suara itu hilang, bahkan semua lampunya mati. aku kemudian mencoba mendekati laboratorium itu, tapi memang tidak ada aktivitas apapun. Dengan masgul kemudian aku melangkah pergi, belum sampai 50 meter aku melangkah kembali lagi terdengar suara-suara itu bahkan lebih keras dari yang aku dengar pertama kali tadi. Tapi begitu aku balik dan menuju laboratorium itu semuanya kembali sunyi. Begitu terus, “trembelane gethuk ki “omelku dalam bahasa Jawa, “pasti ada yang ingin mencoba keberanianku nih. Karena merasa ditantang, aku kemudian pelan-pelan mendatangi laboratorium itu lagi. Langkahku kubikin tanpa suara, dengan ilmu pernafasan segitiga aku mencoba meredam bunyi nafas itu, tak lupa kubarengi dengan membaca amalan Qulhu Geni warisan guru beladiriku. Sampai dibutulan kelas II yang bersebelahan dengan laboratorium aku mencoba mengintip, “duh gusti Allah…” aku hanya bisa berucap lirih, dari sela-sela pintu itu aku melihat pemandangan yang membuat dadaku bergetar keras, nampak mulai dari gelas ukur, tabung distilasi, dan semua peralatan laboratorium semua pada “jejogedan” alias menari kaya ada yang memegangi dan menggerakkan, gelas ukurnya saling beradu, begitu juga dengan alu dan alat tumbuknya, belum lagi panci besar dan juga tempat sendok-sendok yang tiap hari kami gunakan untuk praktek. Semua bertumbukan membuat suara yang sangat ribut. Berkali-kali aku mengusap-usap mataku, takut kalau aku sedang bermimpi. Dengkul kakiku terasa lemas, sementara nafasku memburu. Kuambil nafas, dan kucoba menenangkan diri, setelah rasa kaget itu ilang, aku mencoba meraih handle pintu, dan blak pintu itu terbuka. Seketika juga tarian alat-alat laboratorium itu berhenti, semua luruh dan kembali ketempatnya masing-masing. Tanpa menimbulkan suara apapun. “kurang ajar, berarti aku dikerjain yang tidak kelihatan nih, pantesan dari tadi tidak bisa tidur” gerutuku sambil meninggalkan laboratorium atk lewat pintu butulan yang ada.

Sampai diluar pandanganku tertarik pada bayangan hitam yang bergerak-gerak ritmis di bak penampungan air. Kali ini aku tidak mau dipermainkan untuk yang kedua kali, dengan berani kudatangi bayangan itu dan ternyata betul, yang bergerak-gerak itu bayangan kaki sebatas lutut, cuma ukurannya raksasa karena tinggi tower itu kurang lebih empat meter. Belum sempat aku bereaksi, terdengar suara bariton yang cukup keras “ kok kluyuran sampe kene le, opo ono lemburan to ( kok sampai disini, apa ada tugas lembur)” aku tanggap dengan santun aku menjawab, “nggih kyaine, nyuwun palilah kulo kaliyan rencang-rencang lembur kagem acara mbenjang ( betul, ki minta maaf dan mohon ijin kami memang lembur untuk acara besok)” bayangan itu kemudian dehem tiga kali dan kemudian hilang begitu saja. Kantukku hilang sama sekali. Ternyata aku dari tadi diganggu kyai semar, penunggu sekolahku. Dengan mengucap “assalamualaikum” aku kemudian pamit dan meninggalkan lokasi itu.

Belum jauh kakiku melangkah, aku sudah mendengar teriakan keras sekali dari ruang kelasku. Kalau tidak salah suaranya ganif, aku langsung berlari menuju kelas. Sampai disana,  ruang kelas sudah menyala terang, nampak sunari dan wowok dengan wajah yang pucat memegangi tubuh ganif, yang nampak kejang  dengan mulut yang berbusa. “errr…tolong, ganif kemasukan” teriak mereka hampir berbarengan. Aku segera mengambil tasbih setinggi yang selalu melingkar dileherku, kemudian  kulingkarkan dipergelangan tanganku sebagai gelang, dengan keras kupencet ujung jempol ganif, “hmmmmm aduhhhhh panas…panassssssss” teriaknya purau suaranya kecil melengking mirip suara nenek-nenek. “siapa kamu, dan apa maksudmu mengganggu kawanku” teriakku sambil terus menggencet ujung jarinya “aku sadikemmm koncomu kurang ajar, aku lagi momong putuku, diuyuhi ( aku sadikem, temanmu ini kurang ajar, karena berani mengencingi sekarang aku menuntut balas) “aku langsung komat-kamit membaca ayat Qursi dan juga qulhu geni. “wes aku sing njalukne sepuro, koncoku ndak ngerti nek kowe onok kono (sudah, aku sekarang mewakili dia untuk memohon maaf padamu, karena yang dilakukan temanku tadi bukan kesengajaan). Cukup lama aku bernegosiasi dengan sadikem tadi, karena sampai lama tidak mau pergi dari jasad Ganif, maka aku terpaksa menggunakan tasbeh setinggi untuk untuk membuatnya kesakitan, teman-temanku ikut berusaha dengan membaca ayat qursi sebanyak-banyaknya. Akhirnya “aduhhhhh panas…panasssssss aku ora kuwat” dan dengan erangan yang kuat akhirnya sadikem pergi keluar dari badan wadag ganif sahabatku. Ganif kemudian sadar, dengan lemas dia bercerita bahwa tadi dia bermimpi didatangi nenek-nenek tua yang marah dan kemudian menyeretnya pergi, setelah itu dia merasa tidak ingat apa-apa. Sunari dan wowok hanya berpandang-pandangan, kemudian “errr, ayo kita pulang saja dari pada nanti ada apa-apa” katanya. Aku mengiyakan, dan malam itu kira-kira pukul 3.30 pagi kami meninggalkan sekolah dan kembali kerumah masing-masing. Ganif yang masih lemas memintaku untuk mengantarkannya sampai rumah.

Paginya cerita itu menyebar kemana-mana, entah siapa yang membroadcast, sampai akhirnya kepala sekolah memanggilku dan menanyai apa yang sebetulnya terjadi malam kemarin. Dengan bijak, beliau membatalkan acara pensi itu dan memindahkannya di hari Minggu pagi.

Demikian ceritaku diteror penghuni sekolah lamaku.

Tuesday, October 16, 2012

ambulance maut…


Hati kang sardi sedang jengkel, duduknya gelisah, mulutnya mencang-mencong. Rambutnya yang sudah putih sebagian, morat-marit. Wajahnya kusutdan pucat. Kartu gaple yang dipegangnya, menunjukkan balak tiga lagi. Kalah lagi dan kalah lagi, padahal pada putaran yang ketiga ini dia berharap banyak untuk menang. Sehingga hasilnya bisa digunakan untuk melunasi hutang isterinya di warungnya pak budi, yang bukan saja sudah menggunung tapi sudah bikin malu. Tapi kenapa kemenangan yang sangat diharapkan itu justru numpuk ditempatnya sutris, temannya itu. banyaknya     uang hasil kemenangan malam itu membuat wajah sutris  bercahaya persis cahaya bulan purnama di tanggal 15. Kedua orang yang sedang asyik berbagi kartu dan keberuntungan itu, jombak, kaget ketika telepon diruang itu berdering dengan keras sekali. “ di, ada gelandangan mati ketabrak mobil di jl. A. yani, cepat kalian berdua segera meluncur kesana. Ingat tidak pake lama..” begitu perintah Dr. wandi, dokter jaga di klinik  malam itu. Bukannya beranjak, kedua orang tersebut tetap asyik tenggelam menikmati kartunya masing-masing. “males.. paling-paling hanya disuruh kerja bakti,” batin kang kardi sambil mencap-mencep, sambil memainkan Rokok yang dihisapnya yang tinggal separo.

“ kang…gimana sih, diperintah dokter wandi kok masih njedodok ndak mau berangkat” goda sutris. “ nanti dipecat baru tahu rasa lho” katanya sambil memasukkan uang hasil kemenangannya disaku. “ tris, kowe itu lkan tahu to, kalau tugasku itu luar biasa banyak, jadi ndak ada waktu untuk membawa kere yang mati ketabrak motor” gerutunya. Sutris yang mendengar omongan kang sardi yang nggak-nggak tadi  cuma bisa diam. Dia tahu persis, kalau sudah kalah seperti malam itu, kang sardi jadi pribadi yang aneh dan menyebalkan. Keduanya lalu kembali tenggelam dalam permainan kartu yang sepertinya sudah tidak menarik lagi, tak terasa  jam dinding yang ada disudut ruangan itu sudah menunjukkan pukul 02.30 malam.

“pak, bisa mengantarkan jenazahnya papa ke wates,?” tiba-tiba seorang gadis muda cantik yang tidak tahu dari mana datangnya tiba-tiba sudah muncul begitu saja. Wangi parfumnya memecah konsentrasi dua orang yang tegah tenggelam dalam permainan kartu itu. Kedatangan gadis cantik itu telah mengagetkan mereka berdua. “bi…sa, bisa mbak tapi…?!”, “Tapi apa pak ? masalah ongkos ? saya sanggup bayar tiga kali lipat dari tariff biasa, yang penting jenazah papa saya segera bisa sampai ke wates” kata gadis itu dengan sigap. Kang Sardi merasa bagai dapat durian runtuh “pucuk dicinta uang datang menggoda “ pikirnya dengan mata yang berkilat-kilat licik, senyumnya terkembang. “sik bubar dulu, ada panggilan tugas penting” katanya sambil membanting kartu terakhirnya. “ohhh, semprul” kata sutris melihat kelakuan sahabatnya itu. “kalau lihat duit saja, mata lu jadi ijo kang….kang” mendengar kata-kata sahabatnya itu kang sardi hanya tertawa pendek, menurutnya kata-kata sutris itu biasa saja, dan dianggapnya sebagai bagian dari saling gojlok menggojlok diantara sesama sopir ambulance di klinik itu. Baginya, mengantar orang dari rumah ke rumah sakit atau sebaiknya merupakan tugas yang kadang-kadang menjemukan, kalau tidak ada angpoanya. Memang diantara sesama sopir, ulah kang sardi itu sudah sangat terkenal. Kang sardi terkenal sebagai sopir yang suka pilih-pilih. Jangan harap bisa membuatnya beranjak dari permainan kartu, kalau tanpa imbalan rupiah. Untuk tugas yang bersifat social, beragam alas an siap diluncurkannya, kalau toh terpaksa dijalani, tentu dibarengi dengan raut wajah yang tidak sedap untuk dilihat. Sudah jamak di klinik rumah sakit negeri seperti itu, yang namanya pelayanan prima itu hanya bagus di slogan saja. Hampir semua pegawainya ngobyek dan mengomersialkan jenis-jenis layanan yang ada. Seperti yang dilakukan oleh kang sardi tadi. Dia lebih suka  menerima tugas yang ada uangnya, sedang tugas sosial sering dianggapnya seperti kerja rodi saja.

Jadinya malam itu kang sardi berangkat menerobos gelapnya malam bersama gadis cantik yang sudah membayarnya tiga kali lipat untuk membawa jenazah papa nya ke kota wates. Gas poll, itulah prinsip kang sardi untuk memberikan service yang ekselen, agar jenazah itu bisa sampai ke wates sesuai dengan waktu yang disepakati. Malam yang sangat larut membantu keinginannya itu, jalan yang dilalui sepi membuat malam itu terasa tintrim. Tidak banyak kendaraan yang harus dilaluinya termasuk sepeda motor yang biasanya membikin macet dan membuat jalan raya jadi lebih berbahaya, hanya beberapa bis malam dan truk, itupun satu dua.

Persis pukul 3.00 pagi, jenazah sampai di wates. Wajahnya jadi bersinar, dan ngantuknya ilang, ketika dia menerima tujuh lembar seratus ribuan merah dari gadis cantik itu. Buruan kang sardi   membawa ambulancenya balik ke klinik lagi. Kantongnya penuh dengan uang, apalagi yang dicari katanya sambil bersiul-siul. Belum jauh dari batas kota, ada sosok laki-laki yang mencegatnya “ pak saya numpang ke depan ya. Tadi setelah mengantar jenazah ke wates kok mobilnya jadi rewel, jadi saya tinggal disana, besok pagi saja memperbaikinya sekalian bawa montir, masalah bensin beres nanti saya beresi”  tanpa nunggu persetujuannya, laki-laki yang memakai baju serba putih, namun kelihatan sangat kotor itu, langsung membuka pintu dan duduk disebelahnya. Kang sardi sempat cungar-cungir sebentar, hidungnya membau bau yang tidak sedap, bau anyir. Sekilas dia melirik laki-laki yang duduk anteng disebelahnya. Menurutnya tidak ada yang aneh bahkan biasa saja. Cuma wajahnya yang kelihatan mendung, seperti sedang berduka.

“pak., kalau kedatangan sampeyan tadi agak lebih cepat, tentu nasib saya tidak seperti saat ini” mendengar grenengan laki-laki tadi kang sardi kaget. “ lho maksudnya apa pak?” katanya dengan nada tidak suka. “ kalau saja sampeyan mau datang lebih cepat tadi, tentu nyawa saya bisa tertolong” laki-laki tadi menjelaskan dengan irama yang lesu. “sebentar, saya kok tidak paham?!” kata kang sardi dengan nada yang lebih tinggi tidak paham dengan yang dimaksudkan oleh laki-laki  yang ada disebelahnya itu. “saya ini pemulung sampah pak, saat saya tadi sedang mencari sampah-sampah kering, tidak tahu dari mana datangnya  tiba-tiba saya disruduk xenia hitam dari belakang, saya langsung tidak ingat apa-apa, tapi kalau saat itu bapak segera membawa ambulance ketempat kejadian, dan segera membawa tubuh saya ke rumah sakit, mungkin nyawa saya masih bisa ketolong…”, “lho, kalau begitu sampeyan ya..gelandangan  yang tadi diperintahkan oleh dokter wendi untuk saya bawa dari Jl. A. Yani?”, “ ya bener pak…” jawabnya ketus. Kang sardi cepat-cepat menoleh mendengar jawaban laki-laki tadi. Bersamaan dengan waktu dia menolah, laki-laki disebelahnya tadi sudah tidak berujud manusia yang utuh lagi, wajahnya berdarah-darah, hancur. Badannya lalu doyong menjatuhi kang sardi, badannya penuh darah segar yang membasahi sekujur pakaiannya. Melihat perubahan bentuk itu kang sardi langsung merasa gelap, pingsan. Mobil ambulance yang sedang dikemudikannya langsung oleng kekiri, dan menyantap truk treiler yang sedang parkir di bahu jalan. Akibatnya benturan keras terjadi, ambulan kang sardi hancur berkeping-keping, begitu pula dengan tubuh kang sardi. Hancur tergencet bodi dan juga kena benturan dahsyat dengan bak truk treiler yang terbuat dari besi itu. Sementara laki-laki yang berdarah-darah yang ada disampingnya hilang musnah, tidak tahu kemana perginya.

Begitulah kisah tetanggaku kang sardi almarhum kurang lebih tiga tahun yang lalu, cerita ini berhasil kutulis karena secara mistis kang sardi muncul dalam mimpi-mimpiku selama tiga hari berturut-turut. Mudah-maudahan Almarhum diterima disisinya, dan diampuni dosa-dosanya. Amin

Digoda yang tunggu “pengkolan” jalan..


Peristiwa ini terjadi di tahun 87 an ketika saya sedang KKN di desa  suren kutoarjo Purworejo Jawa Tengah. Tahun- tahun segitu, Desa Suren belum dimasuki listrik. Jadi wajar kalau lepas maghrib, suasana desa jadi sunyi. Satu-satunya penerangan berasal dari lampu minyak atau petromak. Jadi bisa dibayangkan betapa serunya KKN kami disitu.

Waktu itu pertemuan dengan warga desa baru saja berakhir. Kira-kira sudah memasuki pukul 22.00. Langit begitu gelap, mendung. Aku yang seharusnya ditemani ellia, mau tidak mau harus jalan sendiri. Karena temanku itu tadi sore pamit pulang ke Jogjakarta.  Melihat kegamanganku, pak lurah memintaku untuk tidur saja dirumahnya bergabung dengan teman-teman lain yang bertempat tinggal disitu. Namun, mengingat sore tadi belum sempat pamit dengan bapak dan ibu induk, aku menolaknya secara halus. Konsekuensinya ya harus berani menyusuri jalan desa yang panjangnya hampir dua kiloan sendirian.

Gerimis kecil-kecil sudah berubah menjadi hujan yang lumayan lebat. Pelan-pelan sepeda pancal kepunyaan pak carik, kukayuh. Lampunya yang suram membelah gelapnya malam. Suasana jalan desa itu sudah sangat sunyi, satu dua lampu minyak yang ada didepan rumah penduduk padam oleh derasnya hujan dan juga angin yang bertiup agak kencang. Berkali-kali aku arus turun dan menuntun sepeda bila jalan yang kulalui penuh dengan batu-batu dan lubang. Berkali-kali juga aku “kejeglong” kubangan kerbau yang penuh dengan air. Satu bulak panjang sudah berhasil aku lewati. Dekat dukuh IV pas perempatan pasar, hujan mulai reda dan terang. Malah bulan tanggal 14 mulai muncul remang-remang. Hatiku mulai tenang, karena tinggal satu bulak panjang lagi aku sudah sampai di kost-kostan. Dekat rumahnya pak jagabaya, perjalananku mulai tidak tenang, aku merasa perjalananku selalu diikuti anjing. Berkali-kali kutengok, dan benar ada seekor anjing yang cukup besar, bulunya hitam matanya berkilat-kilat menakutkan. Tapi anehnya, anjing itu cukup jinak. Seingatku di dusun itu tidak ada yang memelihara anjing, dan aku hafal persis karena sudah lebih dari satu bulan ini aku diberi tugas mengajar nulis halus untuk siswa-siswa SD yang akan dikirim untuk lomba porseni di kabupaten. Lama-lama anjing tadi mulai membayangi sepedaku, bahkan tak jarang berlari ke kiri dan ke kanan memotong laju sepedaku. Tentu saja hal ini membuatku bingung. Takut menabrak. Itu berlangsung cukup lama. Karena merasa terganggu, akupun berhenti dan mencoba mencari batu untuk kulempar kearah anjing itu supaya pergi dan tidak menggangguku. Namun begitu sepeda kujagang, anjing tersebut tidak ada, entah pergi kemana. Kucari kearah kiri dan kanan juga tidak ada, terus kemana bersembunyi kemana ya anjing tadi, pikirku. Perasaanku mulai tidak enak, bulu kudukku pelan-pelan meremang. Mau kembali ke rumah pak lurah sudah lumayan jauh, mau menuju rumah kost juga masih harus melewati bulak ini.

Akhirnya, dengan membaca Basmallah pelan-pelan kembali kukayuh sepeda itu. Bunyi rantainya kembali bergelutukan, berkreat-kreot memecah sepi jalan. Kepercepat kayuhanku agar segera sampai ke batas ujung desa krajan, yang menjadi homebase ku sehari-hari. Sampai diujung pengkolan desa tepatnya disebuah buk atau bangunan segi empat memanjang yang biasa digunakan untuk pembatas aliran air yang kiri kanannya dipenuhi tanaman besar seperti gayam, serut dan asem. Aku seperti melihat daun kelapa yang jatuh melintang dijalan nampak bergerak-gerak, ritmis. Hatiku mulai ciut, karena nampak betul daun kelapa itu pelan-pelan berdiri yang semakin lama makin besar dan tinggi. Warnanya berubah menjadi putih bersih mirip pocongan dengan tinggi sekitar  4 meteran , karena tingginya hampir mencapai pohon kelapa. Melihat perubahan bentuk itu aku cuma bengong, badanku terasa sangat lemas, keringat dinginku keluar. Namun karena sudah tidak mungkin ada tempat untuk menghindar atau “no way out” kuberanikan diri untuk kembali mengayuh sepeda dengan sempoyongan tentunya, mataku kupejamkan. Rasanya jujur sangat berat, ada hawa yang sangat dingin yang menahanku, sepeda itu jadi terasa berat dan jalan ditempat. Begitu berhasil melewati buk yang ditengahnya ada bayangan putih yang semakin lama semakin besar, hatiku terasa lega, genjotan sepedaku jadi luar biasa kencang apalagi aku tahu bahwa jarak dengan rumah bapak kost tinggal beberapa ratus meter lagi. Begitu sampai rumah sepeda langsung kutabrakkan ke pintu, karena jujur saja mulut dan tanganku sudah tidak mampu lagi kugerakkan apalagi untuk berteriak. Bapak dan ibu kostku langsung keluar begitu mendengar suara gedobrakan dipintu depan, dan semakin kaget ketika melihatku langsung ambruk tidak ingat apa-apa itu.

Setelah diberi minum dan juga didoain oleh bapak kost, aku baru bisa bercerita tentang apa yang baru saja kualami. Dengan arif bapak kostku berkata “…walah mas erry, jadi anak laki-laki  itu harus tatag dan berani, masak diganggu mbah suren saja sudah nglumbruk kaya wayang kehilangan gapit, lain kali kalau lewat buk itu jangan lupa berdoa, dan nyalakan bel tiga kali sebagai tanda permisi lewat”. Sementara teman-temanku satu rombongan pada ketawa kecut. Karena jujur saja, hampir semua teman-temanku pernah mengalami  hal yang sama, diajak bercanda oleh yang “mbaurekso” buk dusun krajan desa Suren.

Demikian ceritaku ketika KKN di desa itu, saat ini desa itu sudah menjadi desa yang sangat maju, karena listrik sudah lama masuk desa. Bapak dan ibu kostku pun sudah lama meninggal dunia, sementara karang taruna yang dulu kita bersama, sudah banyak yang pindah ke daerah lain. Jadi ketika kami berkunjung ke desa itu untuk reuni, sudah banyak yang tidak mengenal